Selasa, 28 Desember 2010

Anak Butuh Susu, Bapak Nyolong Sepatu

ditulis oleh Reporter : Yatimul Ainun
Malang (beritajatim.com) – Akibat tak punya uang untuk beli susu anaknya, Yusma Faris Abadi (28), warga Jl Aris Munandar Gang 3B, Kota Malang, usai salat Jumat di Masjid AR-Fachrudin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), nekat nyolong sepatu. Korban adalah Sumarno (21), salah satu mahasiswa Elektronik UMM yang juga salat Jumat di Masjid tersebut.

Dari cerita Wakapolsekta Lowokwaru, AKP Heri Widodo, sebelum salat Jumat digelar, yakni saat pembacaan Khotbah Jumat, pelaku terlihat mondar-mandir di lantai atas, tepatnya dekat rak sepatu para jamaah. ”Baru pada saat pembacaan surat Al-fatihah di rakaat pertama, pelaku baru ikut salat berjamaah,” katanya.

Mondar-mandirnya pelaku itu sudah diawasi dan dicurigai oleh pihak Satpam Masjid AR-Fachrudin, yakni Purwanto. Karena Purwanto sudah curiga sejak awal, pihaknya terus mengawasi pelaku.

”Setelah selesai pembacaan salam, pelaku langsung beraksi. Dengan santai, pelaku langsung mengambil sepatu warna cokelat, yang ada di rak. Lalu pelaku langsung pergi dari masjid,” kata Heri, saat ditemui beritajatim.com, di Mapolsekta Lowokwaru, Jumat (24/12/2010).

Melihat aksi itu, pihaknya langsung berinisiatif untuk memerintahkan salah satu temannya, untuk membuntuti pelaku, kemana perginya. Sementara, Purwanto sendiri, tetap mengawasi rak sepatu. ”Purwanto itu, ingin mengetahui siapa pemilik sepatu yang dipakai oleh pelaku itu,” ceritanya.

Ternyata, saat para jamaah Jumat turun dari Masjid, dan pemilik sepatu yakni Sumarno, kehilangan sepatunya, Purwanto dengan sigap langsung menghubungi temannya, yang memang diperintahkan untuk membuntuti pelaku. Purwanto itu menghubungi temannya via telepon bahwa sepatu yang dibawa pelaku itu bukan miliknya.

”Saat itu, teman Purwanto itu langsung menangkap pelaku. Pelaku pada waktu itu masih berada di parkiran, naik sepeda motor Nopol N 6339 C. Akhirnya, karena banyak yang tahu mencuri sepatu, mahasiswa yang ada di sekitar Masjid itu langsung memukuli pelaku hingga babak belur,” ungkap Heri.

Saat itulah, terang Heri, Purwanto langsung menghubungi pihak Kepolisian Polsekta Lowokwaru. Anggota kami langsung ke TKP dan membawa pelaku ke Mapolsekta Lowokwaru untuk diperiksa lebih lanjut.

”Setelah dilakukan pemeriksaan, pelaku nekat nyolong sepatu itu, karena terdesak kebutuhan ekonomi. Katanya tak ada uang untuk beli susu anaknya. Dan pelaku itu juga mengaku sejak 2003 lalu, dirinya mengidap penyakit AIDS. Mencuri itu untuk beli obat dan susu anaknya. Dia sendiri tak punya pekerjaan,” kata Heri.

Empat Problem Pendidikan di Jatim

Surabaya (beritajatim.com) - Upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, khususnya di area Jawa Timur, terus dijalankan. Peningkatan mutu dilakukan dengan mengenali beberapa problem pokok pendidikan.

Upaya itulah yang digagas melalui konferensi pers yang diadakan di Gedung Departemen Pendidikan Nasional Surabaya, Jl Genteng Kali. Kegiatan dihadiri oleh tokoh-tokoh berpengaruh dalam kemajuan pendidikan. Antara lain Prof. Zainuddin selaku Dewan Pendidikan, serta Prof. Sunarto selaku Badan Akreditasi Sekolah.

Prof. Sunarto menjelaskan problema utama pendidikan di Indonesia sebenarnya terletak pada empat aspek. Pertama, masalah pemerataan pendidikan di mana hingga kini sekitar 40-60% masih belum mengenyam pendidikan. Kedua, mutu pendidikan yang belum dikategorikan baik. Ketiga, belum adanya relevansi pendidikan. Keempat, masih belum adanya efisiensi dan efektivitas pendidikan yang diperoleh akademisi.

Keempat problema tersebut bukan semata-mata hanya tugas dan tanggung jawab pemerintah. "Tanggung jawab di sini tidak berbicara tentang biaya saja. Tetapi, bagaimana keluarga dan lingkungannya juga harus ikut meningkatkan kreativitasnya," ujar Prof. Sunarto.

Sementara itu, Prof Zainuddin memaparkan, akademisi di Indonesia sering memperoleh medali emas dalam olimpiade pendidikan namun belum disertai dengan kreativitas yang menunjang kecerdasannya. Itulah sebabnya, kini pemerintah ingin meningkatkan mutu pendidikan yang dapat diukur dan berbasis pada persoalan lingkungan serta potensi di sekitarnya.

"Agar nantinya, lulusan-lulusan yang muncul bisa memecahkan persoalan yang ada di lingkungan dan daerahnya sendiri. Mereka harus punya kecakapan dalam mendayagunakan lingkungan sekitarnya. Jangan sampai hanya menciptakan masyarakat yang cerdas namun tidak bisa menjadi solusi bagi permasalahan lingkungan," ujar Prof. Zainuddin.

Upaya yang akan dilakukan pemerintah pada tahun 2011 ini akan melakukan pengakreditasian lembaga pendidikan sekitar 47.000 unit, khususnya untuk daerah Jawa Timur sebanyak 8.464 unit. Hasil dari pengakreditasian tersebut akan dicantumkan ke dalam website agar bisa diakses dengan mudah

sumber oleh Reporter : Nico Susilo

Aremania Vs Bonekmania: Berdamailah!

oleh Reporter: Yatimul Ainun

PAGI itu, Minggu (26/12/2010), di sebuah warung kopi, tepat di utara Pabrik Gula Krebet, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, ada obroral kecil antara pembeli kopi dengan pembeli kopi lainnya. Mereka ngobrol tentang masa depan klub kesayangan Aremania, Arema dan klub kesayangan Ngalamani, Persema.

Maklum, obroral beberapa pembeli kopi di warung kopi pingggir jalan raya Krebet, yang warungnya dikelola bu Tina itu, tersedia koran lokal dan regional Jawa Timur. Sehabis membaca berita olahraga di dua koran tersebut, lalu muncul pertanyaan, "Gimana nasib Arema dan Persema ya?" tanya pria bernama Jalal (53), kepada teman ngopi di sebelahnya yang juga asyik membaca koran itu.

"Kan sudah positif, Persema mundur dari ISL. Itu kata pak Peni. Bahkan yang akan diturunkan di LPI adalah tim senior katanya. Kalau Arema tetap menolak keras gabung ke LPI," jawab pria yang bernama Surahman (45), warga Senggrong Krebet itu, memberi tahu kepada Jalal, di sebelahnya.

"Kenapa Arema kok tidak mau bergabung dengan LPI ya? Padahal kalau mau pasti banyak mendapatkan uang dari LPI. Katanya akan diberi uang sebagai modal awal senilai Rp 5 Miliar. Kok tidak mau. Kan bisa menurunkan pemain U21-nya?" tanya Jalal lagi.

"Saya tidak tahu. Mengapa Arema menolaknya. Padahal manajemen sendiri tak ada uang. Gaji pemain saja sudah berapa bulan belum dibayar. Mungkin tak mau gabung LPI, karena gengsi, dan LPI itu hanya saingan ISL saja. Apalagi LPI itu hanya� diikuti tim yang belum teruji kemampuannya," kata Surahman serius, terlihat layaknya pengamat bola, memberi penjelasan kepada Jalal, yang saat itu memakai kaos warna cokelat liris-liris hitam.

Yang membuat Arema tak mau bergabung LPI cerita Surahman, karena mayoritas Aremania menolaknya. "Mengapa menolak?" celetuk Jalal. "Ya karena selain LPI bukan lahir dari PSSI, juga di LPI itu ada Persebaya. Aremania musuhan dengan Bonek," jawab Surahman sembari menyantap kopi panas yang sudah dipesan di depannya.

"Saya tidak tahu, kenapa Aremania itu benci sekali ke Bonek. Begitu juga bonek. Mengapa benci banget ke Aremania," kata Surahman bernada bertanya dan juga bunging mengapa kebencian antara Aremania dan Bonek itu.

Dari obrolan antara Jalal dan Surahman di warung kopi tersebut, menginginkan penulis alahkan indahnya jika Aremania dan Bonekmania segera duduk bersama untuk berdamai. Mustahil, antara Aremania dan Bonek itu tak bisa berdamai. Lalu bagaimana caranya?

Melihat berbagai kejadian yang dialami Arema dan Persebaya beberapa tahun lalu, misalnya pada saat penggawa Arema dikecewakan oleh salah satu pemain yang dibesarkan Persebaya Surabaya, Bejo Sugiantoro misalnya.

Bejo lebih memilih bergabung ke Prsebaya dari pada ke Arema. Padahal, sebelum resmi bergabung dengan Persebaya di Divisi Utama Ligina X, Bejo sudah melakukan proses negosiasi dengan Arema usai habis masa skorsing dari PSSI.

Bahkan, Bejo sudah menerima uang muka dari Arema. Namun, menjelang pendaftaran pemain ke PSSI, Bejo berubah pikiran. Pemain asal Sidoarjo itu membatalkan rencana gabung dengan Arema. Hal itulah membuat penggawa Arema marah. Karena Bejo telah menelikung Arema. Ia telah tanda tangan kontrak dengan Persebaya.

Dengan sikap Bejo itu, pihak Manajemen Arema melayangkan surat protes kepada Persebaya melalui Ketua Harian Persebaya almarhum H Santo. Ketegangan terus berlanjut. Namun ada pemikiran ketegangan tersebut segera berakhir, akhirnya muncul ide bagaimana kedua kubu itu berdamai.

KH Hasyim Muzadi menjadi 'wasit' dalam perselisihan tersebut. Rumah mantan ketua PB NU itu menjadi tempat rekonsilisaisi antara Arema dan Persebaya, pada tanggal 11 November 2003 lalu. Dari kubu Arema hadir ketua Yayasan Arema saat itu, Darjoto Setiawan, Sekum Yayasan Satrija Budi Wibawa, sedangkan di kubu Persebaya hadir seorang diri Wakil Ketua Harian Persebaya H Santo.

"Bagaimana suporter bisa damai kalau pimpinannya gontok-gontokan," kata Kiai Hasyim saat itu, seperti yang dinukil penulis dari sebuh koran lokal di Malang, yang dibelinya dari toko buku bekas di Jl Wilis Kota Malang.

Maklum, pertemuan itu dilakukan di bulan yang tergolong sejuk. Yakni pada bulan Ramadhan. Usai pertemuan itu, kepada para kuli tinta, H Santo mengatakan, "Saya sungguh tak menduga Arema begitu mudah memaafkan kami. Ini mungkin berkah bulan Ramadhan," kata H Santo saat itu.

Dari secuil kisah masa lalu perselisihan Arema dengan Persebaya itu? Mencul pertanyaan, adakah tokoh yang siap mendamaikan Aremania dengan Bonekmania? Kalau hal ini terus berlanjut, tak mustahil, suporter sepakbola Indonesia akan terus mengalami permusuhan yang berkepanjangan.

Tak sedikit, para pecinta sepakbola yang juga tidak suka kalau Aremania memadati Stadion, menyaksikan tim kesayangannya Arema selalu muncul kalimat ejekan dan bahkan mencaci maki Bonek. Kata narsis selalu terlontar. Walaupun tak berlaga dengan Persebaya, selalu muncul kalimat tersebut.

Begitu juga, tak jarang Bonekmania yang juga masih mencaci maki Aremania. Hal ini harus segera diakhiri. Wajar penulis mengajak kepada semua komponen, penggila sepakbola, para suporter dan bahkan para tokoh-tokoh agama yang tak suka perkelahian dan permusuhan. Bagaimanapun caranya, harus dicarikan solusinya agar Aremania dengan Bonek bisa berdamai.

Apalagi, di tahun 2011 nanti, kompetisi Indonesia Super League (ISL) sudah memiliki tandingan yakni Liga Primer Indonesia (LPI), yang akan mulai berkompetisi pada awal Januari 2011 nanti. "Damai dan Damai sesama suporter Indonesia. Mari kita jaga nama baik suporter Indonesia".

Setiap kali penulis melakukan peliputan di Stadion Gajayana Kota Malang dan juga di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, saat mendengar nyanyian yang mencaci Bonekmania dari para Aremania, selalu teringat pada maklumat yang dibuat Manajer Arema Satrija Budi Wibawa.

Maklumat tersebut dikeluarkan pada saat Arema mendapat sanksi dari Komdis PSSI tahun 2008 lalu, dan sanksi kepada Aremania. Ini maklumat Arema itu adalah:

Arema mundur jika Arema, Alexander Pulalo, dan Aremania dihukum. Sudah tidak ada gunanya kompetisi. Komdis sewenang-wenang dan sudah terlibat langsung merusak iklim kompetisi yang tidak jelas ini dengan mengedepankan ketidakadilan.

Arema mundur sebagai bentuk solidaritas ARemania yang telah bersama-sama berjuang selama bertahun-tahun. Arema sangat berharap ketua Umum PSSI dengan bijaksana bisa menyelamatkan Arema-Aremania sebagai aset sepakbola nasional.

Demikian pula, Arema menaruh harapan yang sama lepada BLI agar turut menyelamatkan Arema-Aremania dari sanksi ngawur komdis dan kepentingan sempit yang justru merusak sepakbola nasional. Jangan sampai PSSI dan BLI menjadi rusak hanya karena keputusan Komdis yang sangat sepihak tanpa mempertimbangkan rasa keadilan.

Penulis tidak tahu harus dimulai dari mana untuk mendamaikan Aremania dengan Bonekmania itu. Tetapi yang jelas, Soebekti, pengurus Arema pertma, punya selogan tri Sukses. Yakni, Arema harus sukses dalam penyelenggaraan dalam arti pertandingan aman dan tertib.

Selain itu, sukses pertandingan dalam arti tiket laku sesuai target. Selanjutnya adalah, sukses pertandingan dalam arti Arema memenangkan pertandingan, dengan dukungan penuh suporter setianya Aremania. Penulis yakin, Aremania dan Bonekmania siap berdamai kalau dimotori oleh para tokoh-tokoh berpengaruh, di Malang dan juga di Surabaya. Semoga terjadi. Aremania versus Bonekmania, Berdamailah.

Pemkot Malang Ajukan Perpanjangan Dispensasi Pengurusan Akta Kelahiran

Malang - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, Jawa Timur, melalui Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) setempat mengajukan perpanjangan dispensasi pengurusan akta kelahiran bagi warganya yang berusia satu tahun ke atas.

Kepala Dispendukcapil Kota Malang Rahman Nurmala, Selasa mengakui, sebenarnya dispensasi tersebut sudah diberlakukan mulai tahun 2008, 2009 dan 2010. Karena, masyarakat yang berusia di atas satu tahun masih banyak yang belum memiliki akta kelahiran, maka Dispendukcapil mengajukan perpanjangan kembali.

"Surat permohonan perpanjangan dispensasi ini sudah kami kirimkan pekan lalu, bahkan secara lisan pun juga sudah saya sampaikan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini sudah ada jawabannya," tegas mantan Kepala Bagian Organisasi Pemkot Malang itu.

Selama kurun waktu menunggu turunnya persetujuan dispsnsasi tersebut, katanya, Januari-Februari 2011 terpaksa layanan akta kelahiran bagi warga yang berusia di atas satu tahun ditangguhkan dulu. Namun, pihaknya tetap melayani akta kelahiran baru atau untuk usia 1-60 hari.

Ia mengaku, jika layanan akta kelahiran untuk usia satu tahun ke atas itu tetap dibuka, dikhawatirkan persetetujuan perpanjangan yang turun tidak sesuai dengan pelaksanaan di lapangan.

Sesuai Undang Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, warga yang telah berusia satu tahun lebih pengurusan akta kelahirannya berdasarkan penetapan dari Pengadilan Negeri (PN) dan berasaskan pada peristiwa, bukan domisili.

Rahman mengemukakan, dasar permohonan perpanjangan dispensasi bagi warga yang berusia satu tahun lebih tersebut di antaranya karena sesuai fakta masih banyak warga yang belum memiliki akta kelahiran terutama yang telah berusia lanjut.

Menyinggung animo masyarakat selama kurun waktu beberapa bulan terakhir menjelang berakhirnya masa dispensasi itu Rahman mengatakan, memang banyak yang langsung mengurus akta kelahirannya. Bahkan, dalam dua bulan terakhir lebih dari 20 ribu yang terdaftar.

Memang, lanjutnya, dari 20 ribu yang terdaftar itu sudah ada yang terlayani dan dalam antrean penyelesaian. Kemungkinan baru awal Januari 2011 bisa diselesaikan seluruhnya.

"Yang pasti tahun 2011 nanti semua sudah selesai, bahkan bayi di bawah lima tahun (balita) seluruhnya harus sudah memiliki akta kelahiran. Ini program yang harus kita realisasikan," tegasnya.

Liburan Tahun Baru, Wisatawan ke Batu Diprediksi Menurun

Batu - Jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Batu, Jawa Timur, pada liburan Tahun Baru kali ini diprediksi akan menurun sekitar 10 persen dibanding dengan liburan Tahun Baru sebelumnya.

Humas Jatim Park I, Titik S Ariyanto, Selasa mengatakan, penurunan itu karena adanya hujan yang terus mengguyur kawasan Malang Raya, ditambah lagi dengan pemberitaan jebolnya tanggul Lumpur Lapindo di Kecamatan Porong, Sidoarjo pada Kamis (23/12).

"Memang terjadinya hujan dalam beberapa hari ini dan juga info jebolnya tanggul beberapa waktu lalu, memengaruhi kunjungan wisatawan pada liburan Tahun Baru ini, tapi penurunannya hanya sedikit saja," ucapnya.

Titik mengakui bahwa liburan Tahun Baru kali ini adalah momen yang tepat, sebab bersamaan dengan liburan sekolah. Oleh karena itu, pihaknya tetap optimistis penurunannya tidak akan terlalu signifikan.

ia memprediksi, kunjungan wisatawan ke Jatim Park I akan mencapai tujuh ribu orang. "Mudah-mudahan tidak ada hujan pada saat liburan Tahun Baru nanti, dan diperkirakan akan mencapai tujuh ribu wisatawan," ujarnya, berharap.

Selain itu, dengan adanya penambahan wahana baru di Jatim Park I, yakni bioskop 3D juga akan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan selama liburan Tahun Baru nanti.

"Fasilitas yang ada di bioskop 3D tersebut, yakni pengunjung akan terlibat langsung di dalamnya, dan bioskop 3D yang dimiliki Jatim Park I merupakan gedung bioskop yang terbesar di Jawa Timur dengan kapasitas tempat duduk sebanyak 120 kursi dengan lebar layar 6 meter kali 8 meter," paparnya, berpromosi.

Oleh karena itu, dengan adanya penambahan wahana baru, Titik tetap optimistis tidak akan mengurangi jumlah wisatawan yang berkunjung.

Sementara ditanya terkait penurunan wisatawan akibat abu vulkanik Bromo yang menimpa sebagian wilayah Malang Raya, Titik menegaskan, tidak berpengaruh sama sekali.

Ia mengatakan, wisatawan yang menanyakan imbas abu Bromo ke Jatim Park I cukup banyak, hingga berkali-kali telepon yang ada di kantor pemasaran Jatim Park I sering berdering.

"Banyak sekali yang menanyakan hal itu, namun saya tegaskan bahwa Jatim Park dan Kota Batu tidak terkena imbas abu vulkanik Bromo. Oleh karena itu, kita harapkan libur akhir tahun ini, Kota Batu menjadi pilihan liburan," ujarnya.

Lima Pengedar Ganja Diringkus Polresta Malang

Malang - Satuan Polisi Resor Kota (Polresta) Malang, meringkus lima pengedar ganja sekaligus dalam sebuah operasi, dan menyita barang bukti daun ganja seberat 1,25 kg serta uang transaksi ganja sebesar Rp350 ribu.

Kasat Reskoba Polresta Malang, AKP Sunardi Riyono, Senin kepada wartawan mengatakan, dari pengakuan kelima tersangka, ganja itu didapat dari seorang pengedar di Jakarta dengan harga Rp2,5 juta per kg.

Kelima orang yang langsung dijadikan tersangka itu masing-masing, Yusliadi alias Sa’i (33) warga Jalan Setia, Kecamatan Blimbing Kota Malang, Christian Atalo alias Dominggus (43) warga Jalan Dusun Gondorejo, Desa Oro-Oro ombo, Kota Batu, Firdaniel Enggo Wiludu (34) Jl Raya Candi V, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Serta Eko Jatmiko (30) warga Jalan Karya Timur IV, Kecamatan Blimbing, Kota Malang dan Ahmad Choirul Huda alias Kaji (26) warga Desa Gondowangi Gg. Pegadaian, Kecamatan Puwosari, Kabupaten Pasuruan.

"Mereka berlima kami tangkap dalam sebuah operasi Minggu (26/12) dini hari, dan kami tangkap di jam dan tempat yang berbeda pula," katanya.

Sunardi mengatakan, dibongkarnya jaringan pengedar ganja ini adalah hasil dari koordinasi polisi dengan para petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Malang.

"Setelah melakukan kordinasi, kami pertama kali menangkap tersangka Yusliadi, dan ketika itu pria yang bekerja sebagai sopir angkota tersebut sedang berada di area SPBU Jalan Raden Intan, dan petugas yang melakukan penggeledahan menemukan 1 poket ganja seberat 17,6 gram yang disembunyikan di saku celana tersangka," katanya.

Saat diinterogasi, Yusliadi mengaku mendapatkan barang haram itu dari tersangka Eko Jatmiko. Kemudian petugas pun menangkap Eko di rumahnya.

"Ternyata Eko hanyalah orang suruhan dari tersangka Choirul, karena itulah kami melanjutkan perburuannya ke rumah Choirul, dan berhasil meringkus Choirul serta menemukan 5 bungkus ganja yang tiap bungkusnya memiliki berat 17,5 gram," ujar Sunardi.

Selain menemukan barang bukti ganja, polisi juga menemukan uang hasil penjualan ganja sebesar Rp350 ribu.

"Saat kami interogasi, Choirul mengaku memperoleh ganja itu dari tersangka Christian yang tinggal di Kota Batu," katanya.

Sementara saat menangkap Christian, polisi menemukan 1 bungkus besar ganja seberat 1 kg yang disembunyikan di dalam kamarnya. Christian mengaku membeli 1 kg ganja itu seharga Rp 2,5 juta dari Jakarta.

Sunardi mengatakan, rencananya ganja tersebut akan dijual di wilayah Malang Raya dengan harga Rp3 juta, dan diduga ganja-ganja itu akan dijual kepada para pemakai saat pesta Tahun Baru nanti.

"Kami interograsi Christian, dan dia mengaku bahwa membeli ganja itu di Jakarta dari seseorang yang identitasnya telah kami ketahui," kata Sunardi.

Saat ini petugas masih terus berupaya melanjutkan operasi guna mengungkap sindikat jaringan peredaran narkoba tersebut.

"Kami masih melakukan pencarian tersangka lain dalam sindikat tersebut berdasarkan hasil interogasi kelima tersangka itu," kata Sunardi.

Calo CPNS Trenggalek Ditangkap

Trenggalek - Aparat kepolisian berhasil menangkap tersangka penipuan berkedok CPNS di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Muhawan.

Kepastian itu disampaikan Kapolres Trenggalek AKBP Eddy Hermanto, saat menggelar siaran pers terkait perkembangan hasil pengejaran terhadap oknum pegawai di lingkup pemda setempat itu, Selasa.

"Tersangka kami tangkap di persembunyiannya di wilayah Jakarta Timur," terangnya. Unit buru sergap Polres Trenggalek tidak sendirian dalam melakukan penggerebekan tersebut.

Untuk melacak keberadaan buron yang diduga telah melakukan serangkaian penipuan dengan korban mencapai 30-an orang lebih itu mereka terus berkoordinasi dengan jajaran Polresta Jakarta Timur.

Informasinya, keberadaan Muhawan mulai diketahui sekitar dua minggu lalu. Polisi mendapat kabar dari sumber orang dekat tersangka bahwa pria yang diduga menjadi anggota mafia CPNS nasional tersebut kabur ke Jakarta dan bersembunyi di sana.

Informasi tersebut kemudian disampaikan ke Polda Jatim dan disebarluaskan ke seluruh wilayah kepolisian di Indonesia. "Semuanya berkat kerjasama polisi," katanya.

Setelah berhasil dibawa ke Polres Trenggalek, saat ini tim penyidik masih mendalami keterangan tersangka. Polisi masih ingin melacak lagi jaringan Muhawan karena menurut keterangan para korban, makelar SK CPNS palsu itu menyetorkan uang hasil penipuan ke seseorang yang tinggal di sekitar wilayah Jabodetabek.

Diberitakan, Muhawan dilaporkan oleh oleh dua orang tua korban penipuan berkedok pembuatan SK CPNS asal Desa Jatiprahu, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek.

Kedua orang tua itu masing-masing adalah Sudarmanto (54) serta Purwanto (56). Muhawan dilaporkan melakukan penipuan dengan kedok menjanjikan SK CPNS tanpa melalui test untuk anak kedua pelapor.

Total kerugian yang diderita Sudarmanto maupun Purwanto masing-masing sebesar Rp85 juta serta Rp95 juta yang dibayar dalam dua kali tahapan.

Informasi yang diterima polisi, kuat dugaan korban penipuan berkedok CPNS yang dilakukan Muhawan mencapai lebih dari 38 orang.
Sementara itu dalam menjalankan aksinya, Muhawan diduga melibatkan jaringan mafia CPNS dari Jakarta.

Indikasi itu semakin menguat setelah pihak Polda Jatim dan Mabes Polri juga tengah memburu jaringan mafia penipuan CPNS yang di dalamnya diduga termasuk Muhawan.